Broken English: Perbaiki atau Normalisasi?

Pernahkah Anda mendengar istilah broken English? Istilah ini tentu sudah cukup familiar di telinga masyarakat Indonesia. Broken English merujuk pada penggunaan Bahasa Inggris yang tidak sesuai dengan struktur atau kaidah yang benar. Fenomena ini sering muncul karena kebiasaan menerjemahkan kalimat dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris secara harfiah, kata per kata, tanpa memperhatikan tata bahasa dan konteks penggunaannya. Dari situ, kalimat yang diterjemahkan menjadi aneh dan berantakan. Tidak jarang terdengar sangat lucu juga.

Sebagai contoh, istilah “masuk angin” sering diterjemahkan menjadi enter wind. Secara harfiah, enter berarti “masuk” dan wind berarti “angin”. Namun, dalam budaya berbahasa Inggris, tidak ada konsep “masuk angin” seperti yang dipahami di Indonesia. Contoh lain yang cukup populer adalah penggunaan istilah no father untuk menggantikan “tidak apa-apa”. Terjemahan seperti ini jelas tidak sesuai dengan makna yang ingin disampaikan.

Istilah broken English awalnya banyak dipopulerkan melalui sitkom di televisi. Dalam tayangan tersebut, penggunaan Bahasa Inggris yang keliru sering dimunculkan sebagai unsur komedi untuk mengundang gelak tawa penonton. Biasanya, karakter yang menggunakan beberapa kata Bahasa Inggris digambarkan sebagai sosok yang ingin terlihat keren atau modern, tetapi justru keliru dalam penggunaan struktur dan maknanya. Dari situlah istilah broken English semakin dikenal luas.

Seiring waktu, penggunaan broken English tidak hanya muncul di layar televisi, tetapi juga merambah ke kehidupan sehari-hari. Kondisi ini umumnya terjadi ketika seseorang memiliki keterbatasan kosakata (vocabulary) namun tiba-tiba harus berkomunikasi dalam Bahasa Inggris pada situasi yang tidak terduga.

Sebagai contoh, seorang pedagang kaki lima yang sehari-hari melayani pelanggan lokal bisa saja tiba-tiba kedatangan wisatawan mancanegara. Mengingat banyak turis tertarik mencoba jajanan khas di pinggir jalan, situasi seperti ini cukup sering terjadi. Pedagang kaki lima yang biasanya melayani warlok agaknya terkejut. Lalu, mereka berkomunikasi seadanya. Dalam kondisi seperti itu melibatkan broken English.

Untuk orang Indonesia sendiri, penggunaan broken English memang terdengar lucu. Anak-anak SD biasanya mempraktikkan broken English yang mereka dengar dari TV. Beberapa dari mereka sudah mengetahui jokes broken English ini dan sebagian lainnya belum. Nah, di sini targetnya adalah yang belum tahu jokes tersebut. Pecah gelak tawa dan jadi guyonan. Lain halnya dengan siswa SMA. Penggunaan istilah Inggris memang terdengar edgy dan update. Terlebih mereka menggunakan media sosial. Media sosial awalnya hanya memfasilitasi 1 bahasa, yaitu Bahasa Inggris. fitur-fitur mereka hanya tertulis dalam Bahasa Inggris. Pemilihan vocabulary di media sosial biasanya tidak terlalu familiar. Contohnya delete, archive, repost, read, sent, dll. Nah, biasanya mereka tidak tahu cara pengucapannya. Mereka hanya membaca tulisannya. Misal, delete dibaca “delet” dan archive dibaca “arcif”. Kesalahan dalam pengucapan tersebut juga termasuk broken English.

Lalu, apakah penggunaan broken English sebaiknya diperbaiki atau justru dinormalisasi? Mengingat beberapa istilah broken English sudah terlanjur populer dan dianggap lumrah di masyarakat. Menurut pendapat penulis, kebiasaan ini sebaiknya diperbaiki, bukan dinormalisasi. Kesalahan yang dibiarkan terus-menerus dapat berubah menjadi kebiasaan. Jika seseorang terbiasa menggunakan pengucapan atau struktur yang salah, hal tersebut justru akan semakin sulit diperbaiki di kemudian hari.

Penggunaan broken English dalam jangka panjang dapat menimbulkan beberapa dampak. Pertama, seseorang bisa lupa atau tidak pernah mengetahui cara pengucapan (pronunciation) yang benar. Kedua, pesan yang ingin disampaikan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman bagi lawan bicara, terutama jika berkomunikasi dengan penutur asli atau dalam situasi formal. Akibatnya, tujuan komunikasi tidak tercapai secara efektif. Oleh karena itu, penting untuk mulai memperbaiki penggunaan Bahasa Inggris sejak dini agar komunikasi menjadi lebih jelas, percaya diri, dan profesional.

Berikut beberapa alasan mengapa kamu perlu segera memperbaiki broken English:

1. Komunikasi lebih lancar dan Efektif

Menggunakan struktur kalimat yang tepat serta pengucapan (pronunciation) yang benar akan sangat memudahkan proses komunikasi. Baik pembicara maupun pendengar dapat memahami konteks percakapan dengan jelas tanpa kebingungan. Dengan demikian, risiko terjadinya miscommunication atau kesalahpahaman dapat diminimalkan.

Ketika Bahasa Inggris digunakan secara tepat, pesan yang ingin disampaikan akan diterima dengan baik dan tujuan komunikasi pun lebih mudah tercapai. Pada dasarnya, bahasa hadir sebagai jembatan yang menghubungkan dua pihak agar tercipta hubungan yang harmonis dan saling memahami. Oleh karena itu, memperbaiki broken English berarti memperkuat kemampuan komunikasi secara keseluruhan.

2. Menggunakan Bahasa Inggris dengan Baik dan Benar

Belajar Bahasa Inggris sebaiknya dimulai dari dasar yang tepat. Artinya, memahami dan mempraktikkan penggunaan bahasa dengan benar—baik dalam pengucapan (pronunciation), penulisan (writing), maupun struktur kalimat (grammar). Ketika fondasi sudah kuat, kemampuan komunikasi pun akan berkembang dengan lebih stabil. Mengetahui bentuk yang benar membantu kita membangun kebiasaan yang baik sejak awal. Dengan demikian, kita tidak hanya terdengar lebih natural, tetapi juga lebih percaya diri saat berbicara maupun menulis dalam Bahasa Inggris.

3. Meningkatkan Kredibilitas dan Kepercayaan Diri

Menggunakan Bahasa Inggris dengan benar menunjukkan kemampuan yang autentik, bukan sekadar ingin terlihat keren. Ketika kita belajar dengan sungguh-sungguh dan memahami struktur yang tepat, hasilnya pun akan terlihat nyata. Kemampuan yang baik akan menghapus kesan “pura-pura” atau sekadar ikut tren. Sebaliknya, kita tampil lebih percaya diri karena benar-benar memahami apa yang kita ucapkan. Tidak perlu lagi merasa ragu atau dibayangi stigma orang lain. Inilah pentingnya memperbaiki broken English sejak sekarang.

Ingin Terhindar dari Broken English?

Apakah kamu ingin menghindari broken English atau sedang berusaha memperbaikinya? Saatnya belajar dengan metode yang tepat bersama Sobet Inggris!

Sobet Inggris menyediakan berbagai pilihan program yang dapat disesuaikan dengan kebutuhanmu. Jika ingin lebih lancar berbicara, kamu bisa memilih paket Active Communication yang dirancang khusus untuk melatih keberanian, kelancaran, serta ketepatan struktur dan pengucapan.

Setiap kelas diisi maksimal 8 peserta, sehingga suasana belajar lebih fokus, interaktif, dan kondusif. Kamu pun memiliki kesempatan lebih besar untuk praktik langsung dan mendapatkan umpan balik dari pengajar. Tunggu apa lagi? Yuk gabung!

By Widya Arrahmahati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *