
Sumber: https://fictional-battle-omniverse.fandom.com/wiki/Grammar_Nazi
Masa remaja merupakan fase eksplorasi, di mana bermain dan mencoba hal-hal baru menjadi bagian dari keseharian, termasuk dalam belajar Bahasa Inggris. Remaja cenderung mudah dipengaruhi oleh teman sebaya dan lingkungan sekitarnya. Ketika satu orang mulai tertarik belajar Bahasa Inggris, tidak jarang teman-temannya ikut tergerak untuk mencoba. Selain itu, remaja juga identik dengan hal-hal yang keren dan update. Aktivitas seperti scrolling media sosial bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana mencari referensi, terutama terkait gaya hidup. Karena pola konsumsi media dan algoritma yang relatif serupa, banyak remaja—meskipun tinggal di kota atau pulau yang berbeda—memiliki pengetahuan populer (pop knowledge) yang hampir sama. Fenomena ini terjadi berkat masifnya akses internet, termasuk dalam penyebaran berbagai istilah dan tren berbahasa Inggris di media sosial.
Berbagai platform digital kini juga memfasilitasi penggunanya untuk membangun diskursus atau ruang diskusi. Menariknya, banyak diskursus yang melibatkan penggunaan Bahasa Inggris. Opini yang disampaikan dengan komposisi Bahasa Inggris yang lebih dominan sering kali dianggap lebih “valid” atau meyakinkan. Tak heran jika penggunaan Bahasa Inggris dalam forum digital kerap menarik perhatian dan memicu beragam respons, baik positif maupun negatif. Setidaknya, diskursus tersebut berhasil mencuri spotlight.
Diskursus yang mendapat perhatian besar berpotensi menjadi viral dan masuk ke timeline atau FYP remaja. Paparan yang berulang membuat remaja semakin terbiasa dengan Bahasa Inggris. Mereka mulai menuliskannya di media sosial, ikut terlibat dalam diskusi daring, hingga menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Namun, di balik tren ini, selalu ada pihak yang bersikap kontra. Tak jarang muncul fenomena grammar nazi dan accent police—istilah slang untuk menggambarkan orang-orang yang gemar mencari-cari kesalahan tata bahasa atau pelafalan orang lain. Padahal, media sosial pada dasarnya merupakan ruang komunikasi nonformal yang seharusnya santai dan menyenangkan.
Pengguna media sosial tentu berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari usia, tingkat pendidikan, hingga privilese yang dimiliki. Termasuk di dalamnya para remaja yang baru mulai belajar Bahasa Inggris. Bagi mereka, media sosial sering dijadikan ruang untuk berlatih menulis dengan ikut terlibat dalam berbagai diskursus. Sayangnya, di ruang inilah para grammar nazi kerap muncul dan menjadi musuh utama bagi pembelajar pemula.
Selain grammar nazi, ada pula fenomena accent police, yaitu orang-orang yang mengejek atau merendahkan cara berbicara Bahasa Inggris orang lain. Mereka biasanya muncul di kolom komentar reels atau shorts yang menampilkan orang Indonesia berbicara dalam Bahasa Inggris. Fenomena ini tidak hanya terjadi di dunia maya, tetapi juga di kehidupan nyata. Kita bisa saja bertemu orang yang meributkan penulisan Bahasa Inggris di suatu tempat, atau mendengar langsung seseorang mengejek pelafalan Bahasa Inggris orang lain. Alih-alih memberi masukan yang membangun, tujuan mereka sering kali hanya untuk mempermalukan dan merasa paling benar. Bagi remaja yang sedang dalam proses belajar, keberadaan grammar nazi dan accent police sangat berbahaya karena dapat menghambat keberanian dan perkembangan belajar. Beberapa dampak negatif dari fenomena ini antara lain:
1. Menghambat Proses Belajar Remaja
Remaja memiliki kondisi emosional yang cenderung lebih rentan dibandingkan orang dewasa. Ketika berhadapan dengan grammar nazi atau accent police, sebagian remaja bisa kehilangan semangat untuk melanjutkan belajar Bahasa Inggris. Pengalaman dipermalukan, baik secara langsung maupun di ruang publik, berpotensi menimbulkan rasa trauma atau kemarahan. Akibatnya, proses belajar menjadi terhambat dan progres yang sudah dibangun pun bisa berhenti total.
2. Rasa Kepercayaan Diri Menurun
Mengejek atau mengolok-olok cara menulis dan berbicara Bahasa Inggris remaja juga berdampak serius pada rasa percaya diri mereka. Terlebih jika dilakukan secara terbuka, kepercayaan diri sering kali menjadi hal pertama yang runtuh. Padahal, ketika rasa percaya diri menurun, remaja akan kesulitan untuk memulai kembali proses belajar. Dibutuhkan motivasi yang jauh lebih besar agar mereka berani mencoba lagi.
3. Perubahan Sikap Ekstrem
Mengejek atau mengolok-olok cara menulis dan berbicara Bahasa Inggris remaja juga berdampak serius pada rasa percaya diri mereka. Terlebih jika dilakukan secara terbuka, kepercayaan diri sering kali menjadi hal pertama yang runtuh. Padahal, ketika rasa percaya diri menurun, remaja akan kesulitan untuk memulai kembali proses belajar. Dibutuhkan motivasi yang jauh lebih besar agar mereka berani mencoba lagi.
Jika kamu remaja yang sedang mencari tempat belajar Bahasa Inggris yang aman dan suportif, Sobet Inggris adalah solusinya. Dengan teacher dan staf yang open-minded, Sobet Inggris berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, bebas dari budaya saling menghakimi. Khusus untuk remaja, tersedia kelas English for Teens yang dirancang sesuai kebutuhan kamu—mulai dari materi yang update hingga media pembelajaran yang trendy dan relevan. Yuk, segera daftar dan belajar Bahasa Inggris bareng teman-teman seusiamu di Sobet Inggris!
By Widya Arrahmahati
